MTsN TAPAN - Alasan Memakai Kurikulum 2013
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan tahun pelajaran 2013/2014 akan menerapkan Kurikulum 2013. Berbagai persiapan untuk
penerapan telah dan sedang dilakukan. Dimulai dari penyusunan rancangan, presentasi kepada
wakil presiden, dan saat ini sedang memasuki uji publik. Uji publik dilakukan
melalui tiga strategi, dialog tatap muka di tingkat nasional yang dilaksanakan
pada lima kota, Jakarta, Yogyakarta, Medan Makassar dan Denpasar. Selain itu,
juga dialog pada 33 provinsi, dialog virtual melalui laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id. Kemudian, secara tertulis (bahan dikirim ke
perguruan tinggi dan lembaga kemasyarakatan pemerhati pendidikan).
Ada empat alasan perlunya perubahan kurikulum saat
ini.
Pertama, tantangan masa depan, seperti globalisasi, WTO, ASEAN Community,
APEC; masalah lingkungan hidup; kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu
dan teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan, kebangkitan ekonomi kreatif dan
lain-lain.
Kedua, kebutuhan kompetensi masa depan, seperti,
kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan
mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemam puan menjadi warga negara
yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap
pandangan yang berbeda dan lain sebagainya.
Ketiga, ada fenomena negatif di masyarakat sebagai
kekurangan kurikulum lama, seperti muncul perkelahian pelajar, penyalahgunaan
narkoba, plagiarisme, kecurangan dalam ujian, korupsi dan gejolak masyarakat.
Keempat, terdapatnya persepsi negatif masyarakat
terhadap kurikulum yang ada, seperti, kurikulum sekarang terlalu
menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa terlalu berat, kurang
bermuatan pendidikan karakter.
Terdapat beberapa perubahan di dunia pendidikan,
terutama pendidikan dasar dan menengah, dengan diterapkannya kurikulum 2013
itu. Salah satu, berlaku penambahan jam pelajarran. Jam pelajaran di Sekolah
Dasar (SD) bertambah empat jam pelajaran per minggu.
Menurut kurikulum saat ini, jam pelajaran perminggu
berdasarkan kelas I, II, II, IV, V, VI adalah 26, 27, 28, 32, 32, 32 jam.
Menurut Kurikulum 2013 bertambah menjadi 30, 32, 34, 36, 36, 36 jam per minggu.
Begitu juga di SMP, yang semula 32 jam perminggu
ditambah pengembangan maksimal empat jam perminggu, berubah menjadi 38 jam dan
dengan pengembangan minimal 4 jam per minggu. Di SMA, kelas X, semula 32
bertambah menjadi 40 per minggu.
Dengan bertambahnya jam pelajaran per minggu,
berarti terdapat penambahan waktu anak berada di sekolah setiap hari. Boleh
dikatakan hari-hari dan waktu anak akan dihabiskan di sekolah. Ini mirip dengan apa yang diterapkan dengan sistem
full day school. Artinya, dengan Kurikulum 2013 siswa makin lama berada di
sekolah dibandingkan dengan kurikulum sekarang.
Terdapat beberapa keuntungan dengan makin lamanya
siswa di sekolah. Pertama, bertambah waktu untuk aktivitas pengajaran
pelatihan, dan pendidikan. Jika sekolah menyikapi tambahan jam pelajaran dengan
sistem full day school, sekolah dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pada pukul
16.00, maka terdapat waktu jeda istirahat bagi siswa.
Waktu jeda dapat dimanfaatkan mengerjakan berbagai
latihan, tugas, mengulang pelajaran, baik secara perseorangan atau pun secara
berkelompok sambil istirahat. Begitu juga waktu jeda dapat dimanfaatkan untuk
berlatih keterampilan tertentu, baik keterampilan kriya, olahraga, atau pun
kesenian. Sekolah juga dapat mempersiapkan berbagai program pembentukan
kepribadian siswa, program sosial, program keagamaan, dan lain-lain.
Kedua, makin lama siswa berada di sekolah, berarti
makin lama siswa di bawah pengawasan guru. Hal ini akan mencegah para siswa
berbuat perilaku menyimpang, seperti tawuran, keluyuran, merokok dan
sebagainya. Biasanya, para siswa berbuat penyimpangan itu di
luar sekolah atau di luar jam sekolah. Jarang siswa yang berani melakukan
penyimpangan di sekolah atau pada jam sekolah. Bagaimana pun, pengawasan guru
masih ditakuti para siswa.
Masih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan sekolah
dengan penambahan jam belajar. Misalnya, makin terjalinnya keakraban
antarsiswa, keakraban antara gu ru dengan siswa dan lain-lain. Namun, penambahan waktu siswa di sekolah juga akan
memiliki berbagai kelemahan, terutama jika sekolah (guru, pemerintah, orang
tua) tidak mempersiapkan dengan baik.
Bagaimana pun, ada penambahan waktu siswa di sekolah
berdasarkan Kurikulum 2013 harus dipahami sebagai salah satu upaya untuk
memperkuat peran sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan.
Selama ini, peran sekolah dalam mendidik siswa masih
dikalahkan pengaruh (peran) masyarakat dan lingkungannya karena waktu siswa
berada di sekolah, di bawah pengawasan guru masih sedikit. Sebagian besar waktu siswa dihabiskan di luar
sekolah sehingga program pendidikan, terutama berkaitan dengan karakter,
perilaku dikalahkan peran (contoh, fakta) lingkungan, masyarakat yang tidak
sejalan dengan nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah.
Penerapan Kurikulum 2013 yang memperkuat peran
sekolah harus dipersiapkan semua pihak dengan baik. Misalnya, apakah sekolah
mempersiapkan berbagai program pendidikan, pelatihan, dan pengajaran yang
cocok, sehingga tidak membuat siswa jenuh, bosan, tersikssa berada di sekolah.
Pemerintah harus mempersiapkan sarana dan prasarana
yang memenuhi standar. Misalnya, apakah semua sekolah sudah bisa melaksanakan
sistem pembelajaran satu shift, apakah sarana lain, seperti sarana ibadah,
sarana olahraga, kesenian sudah tersedia secara memadai. (*Indra Jaya Nauman, 01-15-2013
)

Posting Komentar